Training Guru GYD April 2015

April 14, 2015

GYD (Griya Yatim Dhuafa) memiliki unit pendidikan untuk anak-anak yatim-dhuafa yang dikelola. Guru-guru dan pengurus yang membawahi divisi pendidikan diberikan pelatihan tentang kegiatan belajar mengajar yang baik. Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk memberi pelatihan kepada para gurunya.

Ahad 12 April 2015, saya hadir memberikan pelatihan sejak pukul 09.00-12.00. Saya berbagi tentang bagaimana menjadi guru yang baik dan benar, kemudian bagaimana paradigma pendidikan yang seharusnya, serta bagaimana menciptakan kegiatan Pembelajaran yang Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAIKEM).

Selepas shalat zhuhur berjamaah, saya pamit meninggalkan mereka, para guru yang mudah-mudahan meresapi benar tentang bagaimana seharusnya pendidikan dan pembelajaran berlaku, aamiin…


Sekolah RSBI-SBI Bubar?

January 11, 2013

Satu-satunya tema tulisan yang tidak pernah dibicarakan dalam blog ini adalah tentang RSBI atau SBI, tetapi kali ini saya ingin mengangkatnya, terkait dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi hari Selasa, 8 Januari 2013 yang membatalkan pasal 50 ayat 3 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, karena bertentangan UUD 1945.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan pasal ini dan mengabulkan seluruh permohonan judicial review dari para penggugat adalah:

  • biaya yang mahal mengakibatkan adanya diskriminasi pendidikan.
  • pembedaan antara RSBI-SBI dengan non RSBI-SBI menimbulkan adanya kastanisasi pendidikan.
  • bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam tiap mata pelajaran dalam sekolah RSBI-SBI dianggap dapat mengikis jati diri bangsa dan melunturkan kebanggaan generasi muda terhadap penggunaan dan pelestarian bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.

(Sumber diolah dari: Kompas. com)

Untuk lebih jelasnya, berikut ini saya kutipkan bunyi pasal 50 ayat 3 UU No.20 Tahun 2003 yang digugat dan kini dinyatakan tidak berlaku lagi:
“Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”
Pasal inilah yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk “memaksakan diri” membuka Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional – Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI-SBI) di beberapa kabupaten/kota, yang jumlahnya mencapai sekitar 1300-an. (Di masyarakat, istilah RSBI-SBI sering diplesetkan menjadi Rintihan Sekolah Bertarif Internasional-Sekolah Bertarif Internasional).
Perlu diketahui, pengujian pasal 50 ayat 3 UU No.20 Tahun 2003 ini diajukan oleh sejumlah orang tua murid dan aktivis pendidikan. Mereka adalah Andi Akbar Fitriyadi, Nadia Masykuria, Milang Tauhida (orang tua murid), Juwono, Lodewijk F Paat, Bambang Wisudo, Febri Antoni Arif (aktivis pendidikan). Mereka menilai pasal yang mengatur penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional itu diskriminatif. Keberadaan pasal itu menimbulkan praktek perlakuan yang berbeda antara sekolah umum dan RSBI-SBI.
(Sumber: republika.co.id).

Dengan adanya keputusan MK ini, sekolah yang menyandang label RSBI-SBI kembali menjadi sekolah biasa, dalam arti tidak lagi menggunakan label internasional. Saya pikir, lebih baik menyandang status sekolah biasa tetapi prestasinya internasional, daripada menyandang status internasional tetapi prestasinya hanya biasa-biasa saja.
Dengan dibubarkannya sekolah-sekolah RSBI-SBI, peluang pemerintah untuk lebih fokus mengejar pencapaian Standar Nasional Pendidikan semakin menjadi lebih terbuka. Segala dana dan tenaga yang selama ini terserap untuk kepentingan pengembangan RSBI-SBI, bisa diproyeksikan untuk kepentingan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan, yang menurut saya jauh lebih penting dibandingkan mengejar standar internasional tetapi justru menimbulkan inefisiensi dan distorsi di lapangan.

Bagaimana menurut Anda tentang Pembubaran RSBI-SBI ini ?
========

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2013/01/09/rsbi-sbi-bubar/


Rencana Kurikulum Baru Pendidikan Kita

October 4, 2012

Berdasarkan informasi yang beredar di berbagai media massa, bahwa saat ini pemerintah  tengah mempersiapkan kurikulum baru yang diharapkan dapat rampung pada bulan Februari 2013

Kurikulum tampaknya masih terus berubah, sehingga terkadang ada komentar sinis “ganti menteri, ganti kurikulum”. Dari sisi positifnya, kurikulum memang harus berubah sesuai dengan sifatnya yang dinamis, apalagi menyangkut manusia yang selalu mengalami perubahan (mudah-mudahan memang demikian, bukan karena kita tidak memiliki arah yang jelas, bukan pula karena terus menerus trial and error).

Sebelum disahkan dan diaplikasikan, terlebih dahulu pemerintah akan melakukan uji publik terhadap rancangan kurikulum baru ini untuk memperoleh kritik dan masukan dari masyarakat. Kurikulum baru ini merupakan evaluasi dari seluruh mata pelajaran dan akan diterapkan pada semua jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.

Dilihat dari konten,  kurikulum baru ini akan memangkas sejumlah mata pelajaran. Di tingkat Sekolah Dasar (SD)  jumlah mata pelajaran hanya empat yakni Bahasa Indonesia, PPKn, Matematika dan Agama, dengan tetap mengacu kepada  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang ditetapkan. Terkait dengan mata pelajaran IPA dan IPS,  yang sempat diisukan akan ditiadakan,  kedua mata pelajaran ini  tetap akan diberikan kepada siswa  dalam bentuk yang  berbeda, terintegrasi dengan mata pelajaran lain (Khairil Anwar Notodiputro,  JPNN.com).

Sementara, untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak tujuh mata pelajaran dan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebanyak 10 mata pelajaran. (Inilahjabar.com). 

Dilihat dari strategi, kurikulum baru ini akan menekankan pada model pembelajaran tematik yang mengarah pada pendidikan karakter. Dengan pendidikan bersifat tematik akan dapat mengembangkan tindak kompetensi penting, yakni perilaku, keterampilan, dan pengetahuan. Selain itu, melalui pendekatan tematik ini, diharapkan  dapat  memberikan ruang gerak bagi siswa untuk berekspresi seluas-luasnya dalam mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya.

Menurut Musliar (AntaraNews.com): “Pendidikan karakter akan lebih banyak dipelajari siswa di tingkat sekolah dasar dimulai sejak dini, semakin tinggi jenjangnya, pelajaran terkait pendidikan karakter berkurang dan diganti dengan pelajaran keilmuan”.

Hal senada disampaikan oleh Prof. Kacung Marijan, MA, Staf ahli Mendikbud, bahwa: “Kurikulum pendidikan yang baru nanti akan mengubah mindset pendidikan yang bersifat akademik menjadi dua paradigma yakni akademik dan karakter, bahkan pendidikan karakter akan lebih banyak di tingkat pendidikan dasar atau TK dan SD, karena karakter itu merupakan pondasi pendidikan”. (Kompas.com)

Sumber:  http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/09/30/kurikulum-baru/#more-21985  (dengan beberapa editan).


Ny Siami, Si Jujur yang Malah Ajur

June 16, 2011

Diusir Warga karena Lapor Contek Massal

TERHARU – Ny Siami dan Fatkhur Rohman, wali kelas Al, teharu saat saling minta maaf dalam mediasi di balai RW, Kamis (9/6). Foto: surya/faiq nuraini
SURABAYA | SURYA – Ny Siami tak pernah membayangkan niat tulus mengajarkan kejujuran kepada anaknya malah menuai petaka. Warga Jl Gadel Sari Barat, Kecamatan Tandes, Surabaya itu diusir ratusan warga setelah ia melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya, Al, memberikan contekan kepada teman-temannya saat Unas pada 10-12 Mei 2011 lalu. Bertindak jujur malah ajur! Read the rest of this entry »


Film 3 IDIOTS

June 2, 2011

Sudah lebih dari sekali film 3 IDIOTS diputar di sebuah statsiun TV, tetapi lagi-lagi tergoda untuk kembali menontonnya. Terakhir, film ini diputar di SCTV hari kamis siang, 02 Juni 2011. Baca Lengkap Read the rest of this entry »


Permendiknas No. 11 Tahun 2011 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan

May 30, 2011
Posted on 8 Mei 2011 by AKHMAD SUDRAJAT (http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com)

Pelaksanaan Sertifikasi Guru merupakan salah satu wujud implementasi dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Tahun 2011 merupakan tahun kelima pelaksanaan sertifikasi guru yang telah dilaksanakan sejak tahun 2007. Baca Lengkap? Read the rest of this entry »


Mengamati Pendidikan di Singapura dan Malaysia

March 11, 2011

Melawat ke Singapura dan Malaysia maret 2011 yang lalu, saya mendapati pendidikan di Singapura dan Malaysia lebih baik dalam beberapa hal.
Pengamatan sederhana saya adalah: Baca Lengkap Read the rest of this entry »