Tarawih Ramadhan 1437H

June 12, 2016

Alhamdulillah, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, saya kembali mendapat kesempatan mengisi kultum tarawih di beberapa masjid.

Ada beberapa maajid yang sudah biasa saya mengisi diaana, tapi ada juga yang baru.

Diawali jelang puasa dengan Tarhib Ramadhan di warga Jalan Dara II, Komplek Vila Pamulang, Pondok Petir, Bojongsari, Depok.

Selanjutnya di Masjid Attaqwa 4 dan Attaqwa Raya (Komplek Pamulang II, Tangerang Selatan), Masjid Almuhajirin (komplek Vila Pamulang, Pondok Petir, Bojongsari, Depok), Masjid Albayyinah (komplek Serpong Park, BSD, Tangsel) dan Tarawih di Muhammadiyah, Pamulang Barat, Tangsel.

Subuh di Masjid Albayyina, BSD. Sedangkan kuliah ba’da zhuhur di Masjid Kantor Indovision, Cengkareng, Jakarta Barat.

Masih sangat sedikit yang bisa saya lakukan untuk terus belajar mempwrbaiki diri dan berbagi dengan sesama. Semoga yang setitik ini menjadi manfaat untuk diri, sebagai penghapus dosa dan amal saholih, insya Allah, aamiin…


Pelatihan Blog Guru SDI Annajah Petukangan Jakarta Selatan

April 27, 2016

Campur aduk perasaan saya, pada waktu pak Muzaini, M.Pd, Kepala Sekolah SD Islam Annajah meminta saya untuk memberikan pelatihan pembuatan Blog bagi guru-guru SDI Annajah, Petukangan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Betapa tidak? saya merasa terharu ada sekolah yang ingin meningkatkan kompetensi gurunya dalam menggunakan pembelajaran berbasis IT dalam domain blog. Ini sungguh masih jarang terjadi. Saya juga merasa tersanjung, karena beliau meminta saya mengisi pelatihan, padahal kemampuan saya dalam nge-blog, masih sangat terbatas…

Rabu, 27 April 2016, saya hadir di SD Islam Annajah untuk belajar bersama guru-guru disana. Alhamdulillah, guru-guru begitu antusia untuk belajar, meski sebagian diantara mereka masih ada yang belum terbiasa dengan dunia internet, termasuk belum punya alamat email sendiri.

Akhir kegiatan belajar, sekitar pukul 13.30, sungguh mengagumkan, beberapa guru sudah terlihat mampu membuat dan mengisi blognya sendiri.

Semoga menjadi pencerahan dan perbaikan di waktu-waktu yang akan datang, aamiin…


Perjalan Murah Singapura dan Malaysia

June 12, 2014

zay_singCukup lama saya menjanjikan teman guru di SMK Negeri 40 Jakarta Timur untuk menemani mereka ke Singapura dan Malaysia dengan biaya yang relatif murah. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga niat itu, pada tanggal 2-4 Mei 2014 (3 hari 2 malam) kami pergi kesana.
Diawali dengan mencari tiket murah dengan pesawat AirAsia. sebenarnya, asalkan kita agak sabar dan jauh-jauh hari mencari, biasanya dapat yang murah, bahkan murah banget. Tapi, karena saya mencari agak dekat waktu berangkat, makanya tiketnya lumayan mahal, meskipun sebenarnya lebih murah dibanding maskapai lain.
Rute pergi-pulang: Jakarta-Singapura-Jakarta. Ini adalah rute yang lebih murah dibandingkan mengambil rute Jakarta-Malaysia-Singapura-Jakarta, atau Jakarta-Singapura-Malaysia-Jakarta.
Sedangkan untuk penginapan, saya ambil rumah sewaan, kebetulan milik orang Indonesia, sehingga lebih mudah komunikasi dan bisa bayar dengan BCA. Menurut saya, harganya lumayan murah, hampir sebanding denga hotel yang paling murah (Hotel loh, bukan hostel…). Padahal, lokasinya di pusat kota, belakang ORCHARD ROAD.
Rencana perjalanan kami:
Hari-1 (Jumat): Singapura (sehari semalam, menginap di singapura).
Hari-2 (Sabtu): Malaysia-Johor bahru (sehari semalam, menginap di Johor).
Hari-3 (Minggu): Singapura (seharian, malam pulang ke Jakarta).
Bismillah… Tanggal 2 mei 2014, sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk memaksimalkan keliling di Singapura di hari pertama. Kami ambil jadwal penerbangan jam 05.30, sampai di Singapura jam 08.30 waktu SIngapura. Demi pengiritan (hehe..), kami berkeliling Singapura dan malaysia naik MRT atau bus.
Hari-1: Singapura
-Sesampai di Airport Changi, kami naik kereta airport untuk keluar menuju rute MRT, namanya Tanah Merah (gratis). Sesampai disana, barulah beli tiket MRT SGD 12 (kartu chip berisi SGD 7, harga kartu SGD 5).
-Dengan naik MRT itulah kami menghabiskan waktu untuk berkeliling Singapura seharian, seperti USS (Universal Studio), Merlion (patung Singa ), Singapore Flyer (naik kincir/kapsul raksasa, bisa lihat hampir semua penjuru Singapura),  Marina Bay, Clark Quay (wisata pinggir sungai, naik perahu), dll.
-Hingga malam kami menghabiskan waktu untuk jalan-jalan menikmati berbagai wisata Singapura (karena hari-1 hanya untuk jalan-jalan…)
-oh ya, untuk makan, yang bernuansa Indonesia atau melayu, sebenarnya banyak di berbagai tempat atau mall. Tetapi kami lebih banyak makan di mall Lucky Plaza (mall yang paling dikenal orang Indonesia, karena murah dan bervariasi, juga banyak restoran Indoensia).
Hari-2: Malaysia (Johor Bahru)
-Rencana ke Malaysia, kami hanya menuju Johor Bahru, tidak jadi ke KL (Kuala Lumpur), karena ke KL membutuhkan waktu lama, naik bus saja harus 6-7 jam baru sampe KL, belum lagi jalan-jalan dan balik lagi ke Singapura. Jadi, kami hanya ke Johor yang waktu tempuh dari Singapura hanya 30 menit -1 jam saja. Ditambah lagi sudah cukup lumayan di Johor ada yang bisa dikunjungi, diantaranya LEGO LAND (tempat main seperti Dufan), KITTY LAND (tempat main anak-anak bernuansa boneka Hello Kitty) dan JPO (Johor Premium Outlet, ini tempat favorit Ibu-ibu untuk belanja barang branded, tapi harganya lebih murah).
-Pagi-pagi sesudah sarapan, kami bergegas ke Johor Bahru-Malaysia naik bus. Bus untuk menyebrang ke Johor sebenarnya banyak, murah dan cepat. Banyak tersedia di berbagai tempat di wilayah barat, seperti BUGIS, WOODLAND, MARSILING, KRANJI ataupun JURONG EAST. Ongkos bus relatif murah, hanya dengan SGD 4 sudah sampe ke LEGO LAND Johor bahru, kalo cuma nyebrang ke Johor, malahan ongkos lebih murah SGD 2. Banyak jenis/merk bus disana, diantaranya CAUSEWAY LINK. Bebas mau naik apa aja, harganya sama kok…
-Sewaktu menyebrang ke Johor, kita akan melewati imigrasi Singapura untuk keluar. Harus bergerak cepat loh, karena tas/ransel kita harus dibawa sendiri turun dari bus. Setelah proses imigrasi kita ke pintu keluar, dan langsung naik bus yang tadi kita naik. kalo kita ketinggalan bus yang tadi kita naik, gak masalah, karena kita tunggu bus yang sejenis berikutnya. gak lama kok, paling nunggu 10-15 menit.
-Pas selesai nyebrang jembatan Singapura-Malaysia, kini giliran turun bus lagi untuk proses imigrasi masuk ke malaysia, caranya hampir sama seperti di imigrasi Singapura. Tas/ransel kita bawa turun, lalu proses dan naik bus lagi.
Ada cara yang lebih simpel, kalo gak mau ribet. Nyebrangnya naik taksi aja di stasiun atau terminal BUGIS. Dari sana naik taksi SGD 40 untuk 4 orang sampe ke Johor. Kalo mau langsung ke LegoLand lebih mahal, bisa sampe SGD 70 untuk berempat. Asiknya, pas proses imigrasi, kita gak usah turun dari mobil waktu diperiksa, cuma dilihat dan ditanya nama aja.
-Sesudah sampe di LegoLand, terserah deh.. mau masuk dan menikmati semua fasilitas dan mainan bayar tiket 140 Ringgit, disitu kita bisa mainan air (kaya water park), dan lain-lain, tapi yang cukup unik, ada MINI BUILDING, bentuk mini dari berbagai bangunan di berbagai negara, seperti: Petronas-Malaysia, Merlion-Singapore, Karaweik Hall-Myanmar, Wat Arun-Thailand, Pura tanah Lot-Bali-Indonesia, Hoi Ann-Vietnam, Masjid Sultan-Brunei, Patuxai-Laos. Semuanya dalam bentuk mini yang terbuat dari Lego.

Bagi yang gak mau masuk ke dalam karena lumayan mahal (RM 140= Rp500rb-an loh…), ya udah cukup foto-foto di depan dan sekitarnya aja, sambil jajan dan kaman deh…

-Selepas dari LegoLand, sekitar sore jam 16.30 waktu Malaysia, siap-siap menuju Bus, karena yang terakhir jam 17.30. Terserah, mau langsung ke JPO untuk belanja atau ke hotel dulu, taro tas, mandi, makan, barulah ke JPO.

-Malam hari kami menginap di CITRUS HOTEL, menurut saya lumayan murah, walopun tempatnya kelihatan kecil tapi kamarnya lumayan luas, staffnya ramah. Lokasi hotel tempat kami menginap, di pusat Johor bahru, deket ke berbagai mall (CITY SQUARE, JOHOR) dan gampang cari makan, di samping hotel aja banyak kedai-kedai.

Hari-3: Singapura – Belanja

-Pagi-pagi selepas sarapan, kami bersiap kembali ke Singapura. Karena sebagian sudah kecapean, kami naik taksi ke Singapura. Kami naik dari terminal taksi di Johor bahru. dari hotel jalan kaki sekitar 15 menit, tapi kalo naik taksi dari hotel ke terminal RM 5.

o ya, kalo mau naik taksi dari Johor ke Singapura, ternyata hanya taksi yang berwarna kuning, itu yang khusus untuk menyebrang. Kalo taksi lain gak boleh. Ongkos taksi RM 70 untuk berempat.

-Seperti waktu nyebrang Singapura-Johor, kembalinya pun sama, harus melewati 2 imigrasi, pertama Malaysia (keluar) dan kedua Singapura (masuk lagi). Tapi karena naik taksi, jadi kami gak usah repot turun, pemeriksaan di dalam mobil.

-Sesampai di Singapura, kami menghabiskan waktu untuk belanja sebelum pulang sore harinya. Banyak tempat yang bisa dikunjungi, walaupun sebenarnya gak banyak bedanya, yang murah-meriah di berbagai tempat kurang lebihnya sama aja, ada di Lucky Plaza (orchard), China Town, Bugis, Mustafa Center, dll. Kalo yang branded juga hampir sama di berbagai tempat, misalnya di orchard ada TANGS PLAZA, TAKASHI MAYA, dll.

-Alhamdulillah, akhirnya kami bersiap kembali ke Airport Changi setelah cape seharian keliling berbelanja.

-Sekitar pukul 22.00 kami tiba di Jakarta, alhamdulillaaaah…. semoga temen-temen guru SMKN 40 Jakarta Timur merasa puas saya temani jalan-jalan dengan biaya yang relatif murah. Oh ya… ternyata masing-masing menghabiskan kurang lebih Rp 2,2 juta-an. Lumayan lah, 3 hari 2 malem ke Singapura-Malaysia, hehehe….


Pak Tarnedi yang Menginspirasi

January 15, 2014

Pak TARNEDI

Menonton acara Hitam Putih yang dipandu Deddy Corbuzier pada hari senin 16 Desember 2013 pukul 18.00 WIB, saya sangat terkesan dengan bintang tamunya. Namanya Pak Tarnedi, usianya 54 tahun. Profesinya adalah seorang supir taxi. Bukan profesinya yang membuat beliau menjadi ‘sesuatu’ banget. Melainkan sebagai seorang supir taxi di Jakarta beliau memiliki mental belajar yang luar biasa. Terutama belajar bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris memang biasa tapi akan jadi luar biasa jika itu dilakukan oleh seorang supir taxi yang buta huruf. Pak Tarnedi belajar secara otodidak.
“Saya belajar karena kebutuhan”. Demikian kata Pak Tarnedi. Kebutuhan yang dimaksud beliau adalah butuh ilmunya. Saya sangat terkesan dengan pernyataaannya ini. Belajar Karena Kebutuhan. Baginya dengan belajar bahasa Inggris akan mempermudah pekerjaannya. Menurut Pak Tarnedi jika ia dapat berbahasa Inggris maka dia akan dapat melayani penumpang taxi-nya (yang bule-bule itu) dengan baik. Benar-benar sebuah sikap bermental professional. Meningkatkan kualitas diri untuk memberikan layanan yang berkualitas pula. Mental belajar yang patut dicontoh oleh generasi yang masih duduk di bangku pendidikan dasar dan menengah, apalagi perguruan tinggi. Tentu saja patut ditiru juga oleh mereka-mereka yang mengaku profesioanal.
Karena semangat belajarnya yang tinggi, beliau selalu mendapat tips menakjubkan dari penumpang bule-nya. Bahkan ada yang member tips hingga Rp 500.000,- dengan pesan untuk membeli buku. Bagi Pak Tarnedi pesan ini adalah amanah. Lagi-lagi mental professional yang luar biasa. Sungguh ironi jika dibandingkan dengan banyak pejabat di luar sana yang mengabaikan amanah.
“Guru saya adalah semua orang Jakarta yang pernah menjadi penumpang di Taxi saya”. Demikian pengakuan Pak Tarnedi. Satu sikap low profile dan menghargai orang lain secara tulus. Menurut pengakuannya dia selalu mengajak penumpang taxinya untuk bicara dalam bahasa Inggris. Baginya “We can’t speak English fluently if never practice”. Saking ‘nafsu’-nya belajar bahasa Inggris, sampai terbawa ke dalam mimpi beliau. “Bapak suka ngelindur (mengigau). Jika sudah ngelindur bicaranya ngaco pakek bahasa Inggris”. Demikian kata putra Pak Tarnedi. Wow, bisa kebayang bagaimana semangat belajarnya.
Untuk mencapai sukses, terkadang seseorang perlu ‘gila’. Begitulah motivasi dari Deddy Corbuzier. Ya, kita memang perlu meng-‘gila’ untuk mengusir sifat malas dari diri kita. Pak Tarnedi sering dianggap ‘gila’ oleh orang-orang di sekitarnya. Karena kebiasaannya practice English itu. Bahkan anaknya sendiri sempat malu karena diejek teman-temannya sebagai anak Mister. Tetapi Pak Tarnedi mengabaikan semua ‘cobaan’ tersebut. Beliau maju terus pantang mundur. Hasilnya 2 tahun terakhir ini beliau sudah bisa tulis baca. Amazing…! 
Di saat sebagian orang belajar karena terpaksa atau karena gengsi, Pak Tarnedi justru belajar karena kebutuhan (butuh ilmunya). di saat sebagian orang belajar untuk mendapatkan selembar kertas yang disebut ijazah, Pak Tarnedi justru belajar untuk meningkatkan kualitas diri. Di saat sebagian orang meningkatkan kualitas diri untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, Pak Tarnedi justru meningkatkan kualitas diri untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Sungguh luar biasa…! Kita memang perlu belajar mental belajar dari Pak Tarnedi. Walaupun beliau tidak tamat SD, belum pernah membaca buku filsafat pendidikan, tapi pola pikirnya sungguh terdidik.

Sumber:  http://pelawiselatan.blogspot.com/2013/12/pak-tarnedi-yang-menginspirasi.html

 


Ternyata, Manusia Bukan Makhluk Bumi

November 20, 2013

Hewan bisa minum air comberan yang sangat kotor, tanpa pernah sakit perut. Hewan bisa melahirkan anak dengan sangat mudah, tanpa perlu bantuan bidan dan dokter kandungan. Hewan bisa makan daging mentah tanpa harus takut terkena penyakit.

Sementara kita para manusia, hidup di muka bumi ini serba tidak mudah. Harus minum air matang, Daging harus dimasak dulu sebelum dimakan. Ibu hamil harus rutin memeriksa kandungannya. Melahirkan pun harus ditolong oleh bidan atau dokter kandungan.

Bahkan untuk mencari nafkah pun, manusia harus bekerja keras. Sedangkan hewan? Gampang sekali mereka mendapatkan makanan. Tak perlu bayar pula.

Hm… betapa tidak mudahnya hidup manusia di muka bumi ini!

Seorang ilmuwan Barat melakukan penelitian, dan hasilnya:
Kesulitan hidup manusia seperti ini, karena memang manusia BUKAN makhuk bumi. Kita berasal dari tempat lain. Tempat asli kita bukan di dunia ini.

Sebagai umat beragama, kita tentu percaya bahwa tempat asli kita adalah SURGA. Ke sanalah nanti kita kembali, jika bekal amal kebaikan dan pahala kita cukup, dan mendapat rahmat dari Allah.

Semua manusia di muka bumi ini adalah PERANTAU. Suatu saat nanti kita akan kembali ke KAMPUNG HALAMAN kita yang asli, yakni akhirat.

Masalahnya, hanya ada dua pilihan di akhirat nanti: Surga atau neraka. Tentunya kita mengharapkan surga, bukan? Emang ada yang mau masuk neraka? Tentu tak ada!

Karena itu, yang harus kita lakukan adalah MEMPERSIAPKAN BEKAL sebanyak mungkin, agar nanti kita bisa kembali ke surga, rumah kediaman asli Nabi Adam dan Siti Hawa.

NB: Sebuah artikel yang ditulis berdasarkan penelitian seorang ilmuwan Barat yang (sepertinya) atheis, memperkuat bukti bahwa manusia memang BUKAN makhluk asli bumi. Link artikelnya bisa dibaca di komentar di bawah ini.

http://news.fimadani.com/read/2013/11/19/ilmuwan-amerika-manusia-bukan-berasal-dari-bumi/

Share dari tulisan Pak JONRU
https://www.facebook.com/jonru.page


Penghina Islam Itu Kini Naik Haji

October 21, 2013

SIAPA sangka seorang penghina Islam menunaikan ibadah haji? Begitulah faktanya yang dialami Arnoud Van Doorn.

Awal 2008 lalu, Van Doorn pernah membuat gempar dunia. Kala itu ia bersama Geert Wilders, membuat film berjudul Fitna yang menghina umat Islam dan Alquran.

Namun, sekitar lima tahun kemudian situasi berbalik 180 derajat. Tepatnya 27 Februari 2013, Van Doorn sekali lagi mengejutkan dunia. Melalui Twitter, mantan politisi Partai Kebebasan Belanda itu mengumumkan dirinya masuk Islam dan kemudian naik haji.

Dan, musim haji tahun ini, ia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima. “Saya menemukan diri saya di antara hati-hati yang yakin. Saya berharap air mata penyesalan saya mengeluarkan semua dosa-dosa setelah pertaubatan saya,” kata Van Doorn, seperti dilansir Tribunnews dari Saudi Gazette, Sabtu (19/10/2013).

Van Doorn berjanji, sebagai tanda penebusan, ia akan memproduksi film baru yang menunjukkan esensi sejati Islam dan kepribadian yang benar tentang Nabi Muhammad SAW. Van Doorn pun menegaskan, film Fitna benar-benar salah, karena sarat informasi yang menyesatkan.

Sejak kedatangannya di Tanah Suci, Van Doorn mengaku telah menjalani hari terbaik dalam hidupnya. Ia pun berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu di Madinah.

“Saya merasa malu berdiri di depan makam Nabi. Saya pikir kesalahan besar yang telah saya buat dengan memproduksi film tercela itu. Saya berharap bahwa Allah akan mengampuni saya dan menerima taubat saya,” ujar Van Doorn seraya menitikkan air mata.

Sang produser film Fitna ini mengakui, sejak kedatangannya di Mekkah, ia tak mampu membendung air matanya. Ia merasakan bahwa haji adalah momen paling indah dalam hidupnya.

Kepada suratkabar Saudi Ukaz, mantan wakil Ketua Partai Kebebasan (PVV) Belanda itu mengaku bahwa dalam Islam, ia mendapatkan apa yang selama ini dicarinya.

Ibadah haji pun dimanfaatkannya untuk memohon ampun atas kesalahannya selama ini. Sejak filmnya memantik heboh di dunia, dan kebijakan partainya yang selalu memusuhi Islam, sejak itu pula hatinya terusik.

Rasa penasaran Van Doorn terhadap Islam makin tak terbendung. Ia mulai mempelajari apa itu Islam yang sebenarnya. “Saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran,” kenangnya kala hidayah Islam menghampirinya.

Rasa penasaran itu membuat Van Doorn mencari terjemah Alquran, hadits, dan buku-buku referensi Islam. Hari demi hari ia lalui dengan membaca dan mengkaji buku-buku itu satu per satu, tanpa meninggalkan aktifitasnya yang lain.

Selama ini Van Doorn hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya. Orang-orang yang dekat dengan Van Doorn sebenarnya tahu, bahwa Van Doorn membaca referensi Islam, tapi agaknya mereka tak sampai berpikir bahwa itu akan menjadi jalan hidayah bagi Van Doorn.

Damai Nan Indah

Lazim dalam dunia mereka, mengkaji pemikiran atau paham tanpa harus mempercayai dan mengikutinya. Bahkan, tak sedikit orang yang mempelajari Islam untuk kemudian menyerangnya.

Van Doorn menghabiskan waktu hampir setahun untuk mengkaji Alquran, sunnah dan sejumlah referensi Islam. Ia juga menyempatkan berdialog dengan penganut Islam untuk mengetahui lebih dalam tentang agama yang menarik hatinya itu.

“Orang-orang di sekitar saya tahu bahwa saya telah aktif meneliti Alquran, sunnah dan tulisan-tulisan lain selama hampir setahun ini. Selain itu, saya juga telah banyak melakukan percakapan dengan muslimin tentang agama,” tutur Van Doorn dilansir televisi Al-Jazirah Inggris.

Semakin lama mempelajari Islam, Van Doorn makin tertarik. Ia mulai merasakan Islam sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun sebelumnya ia juga memiliki pondasi agama lain yang dipeluk sejak kecil.

Apa yang selama ini ada di benaknya, bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tak toleran, membabi-buta memusuhi Barat, perlahan sirna. Van Doorn menemukan Islam sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah ia sangka.

Van Doorn juga menemukan, Islam sebagai agama yang cinta damai. Tidak seperti tuduhan Barat yang selama ini mencitrakan Islam sebagai teroris.

“99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, makin banyak orang yang akan melihat keindahan itu,” tegas Van Doorn.

Jalan hidayah bagi Van Doorn kian terbuka lebar ketika bertemu muslimin, Aboe Khoulani yang notabene rekannya yang menjabat di Dewan Kota Den Haag. Selain menjelaskan Islam lebih mendalam, menghubungkan Van Doorn dengan Masjid As-Soennah.

Kini, sebagai penebus atas kesalahannya membuat film Fitna, Van Doorn berjanji membuat karya besar untuk melayani Islam.

“Saya berdoa semoga air mata saya ini mampu menghapus segala dosa yang telah saya lakukan di masa lalu, dan saya akan bekerja untuk menghasilkan karya besar guna melayani Islam dan kaum muslimin setelah kembali dari ibadah haji ini,” tandas Van Doorn dengan wajah berseri. (tribunnews/alb)

Sumber: TRIBUN NEWS.COM
http://id.berita.yahoo.com/penghina-islam-itu-kini-naik-haji-140951031.html


Sekolah RSBI-SBI Bubar?

January 11, 2013

Satu-satunya tema tulisan yang tidak pernah dibicarakan dalam blog ini adalah tentang RSBI atau SBI, tetapi kali ini saya ingin mengangkatnya, terkait dengan adanya keputusan Mahkamah Konstitusi hari Selasa, 8 Januari 2013 yang membatalkan pasal 50 ayat 3 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, karena bertentangan UUD 1945.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan pasal ini dan mengabulkan seluruh permohonan judicial review dari para penggugat adalah:

  • biaya yang mahal mengakibatkan adanya diskriminasi pendidikan.
  • pembedaan antara RSBI-SBI dengan non RSBI-SBI menimbulkan adanya kastanisasi pendidikan.
  • bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam tiap mata pelajaran dalam sekolah RSBI-SBI dianggap dapat mengikis jati diri bangsa dan melunturkan kebanggaan generasi muda terhadap penggunaan dan pelestarian bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.

(Sumber diolah dari: Kompas. com)

Untuk lebih jelasnya, berikut ini saya kutipkan bunyi pasal 50 ayat 3 UU No.20 Tahun 2003 yang digugat dan kini dinyatakan tidak berlaku lagi:
“Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”
Pasal inilah yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk “memaksakan diri” membuka Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional – Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI-SBI) di beberapa kabupaten/kota, yang jumlahnya mencapai sekitar 1300-an. (Di masyarakat, istilah RSBI-SBI sering diplesetkan menjadi Rintihan Sekolah Bertarif Internasional-Sekolah Bertarif Internasional).
Perlu diketahui, pengujian pasal 50 ayat 3 UU No.20 Tahun 2003 ini diajukan oleh sejumlah orang tua murid dan aktivis pendidikan. Mereka adalah Andi Akbar Fitriyadi, Nadia Masykuria, Milang Tauhida (orang tua murid), Juwono, Lodewijk F Paat, Bambang Wisudo, Febri Antoni Arif (aktivis pendidikan). Mereka menilai pasal yang mengatur penyelenggaraan satuan pendidikan bertaraf internasional itu diskriminatif. Keberadaan pasal itu menimbulkan praktek perlakuan yang berbeda antara sekolah umum dan RSBI-SBI.
(Sumber: republika.co.id).

Dengan adanya keputusan MK ini, sekolah yang menyandang label RSBI-SBI kembali menjadi sekolah biasa, dalam arti tidak lagi menggunakan label internasional. Saya pikir, lebih baik menyandang status sekolah biasa tetapi prestasinya internasional, daripada menyandang status internasional tetapi prestasinya hanya biasa-biasa saja.
Dengan dibubarkannya sekolah-sekolah RSBI-SBI, peluang pemerintah untuk lebih fokus mengejar pencapaian Standar Nasional Pendidikan semakin menjadi lebih terbuka. Segala dana dan tenaga yang selama ini terserap untuk kepentingan pengembangan RSBI-SBI, bisa diproyeksikan untuk kepentingan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan, yang menurut saya jauh lebih penting dibandingkan mengejar standar internasional tetapi justru menimbulkan inefisiensi dan distorsi di lapangan.

Bagaimana menurut Anda tentang Pembubaran RSBI-SBI ini ?
========

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2013/01/09/rsbi-sbi-bubar/