Gotong Royong ala Indonesia

Gotong royong ala Indonesia…Dulu, di pelajaran sekolah sekitar tahun 1960 hingga 75-an, masih kerap terdengan tentang budaya GOTONG ROYONG sebagai salah stu karakter besar bangsa Indonesia. Dan memang di kala itu, gotong royong berlaku di hampir sebagian besar masyarakat, apalagi di tanah Jawa yang saya lihat dan alami. Semangat gotong royong sungguh sangat luar biasa.
Di kala itu, jika ada warga yang ingin membangun atau memperbaiki rumah, apalagi kalau yang mau membangun rumah adalah orang yang kurang mampu, antusiasme warga sekitar (tetangga) dan kepala kampung sangat besar. Sebagian besar tetangga yang tidak terikat pekerjaan, hampir semuanya membantu. Sebagian ada yang menjadi tukang, ada juga yang menjadi pembantu mengangkut bata, kapur atau mencari bambu dan ibu-ibu yang memasak nasi untuk bersama. Semuanya tanpa upah khusus, hanyalah sekedar makan di pagi dan siang dengan tambahan kopi-rokok seadanya.
Di kesempatan lain (waktu itu), jika ada yang akan melaksanakan hajatan, kontan masyarakat sekitar gotong royong membantu dengan tanpa imbalan apapun, kalaupun ada, hanyalah makan dan minum kopi seadanya.
Tapi, kini? Hampir tak pernah terlihat lagi suasana itu. Jangankan di perkotaan, di pedesaan yang sangat terpencil pun sudah hampir tak dijumpai. Banyak alasan memang, tapi begitulah keadaannya hari ini. Tak ada uang, tak ada kerja. Tak ada uang , Abang ditendang, hehehe…
Renungan saya kali ini menyangkut gotong royong adalah segala kejadian belakangan ini yang serba tidak teratur, amburadul, kacau-balau….
Di jalan atau lebih khusus di perempatan jalan misalnya, semua orang berburu dengan beringasnya untuk saling serobot untuk lebih dulu ke depan, tepat hampir di tengah perempatan (bukannya di garis batas yang diperbolehkan). Dan, pada saat lampu merah masih menyala merah, asalkan di samping kanan-kiri (yang sedang punya hak jalan) tidak ada kendaraan, atau kalaupun ada agak longgar atau agak lambat bercelah, spontan saja kendaraan di jalur yang lampunya masih merah menyerobot dan melaju dengan kencangnya. Anehnya? justru jika sudah ada yang memulai begitu, kendaraan yang lain berebut ikutan menyerobot lampu merah.
Masya Allah…, mungkin karena semangat gotong royong kali ya?
Pemandangan seperti ini, terjadi di sebagian besar aktifitas, antri menyeberang jalan, antri membeli tiket, antri melamar pekerjaan, antri di kamar kecil, antri naik dan turun bis, bahkan, antri untuk berwudhu, shalat jum’at, shalat tarawih atau ibadah lainnya???
Apa mungkin semangat gotong royong ala Indonesia ini sudah mulai bergeser penerapannya ya? Tak tahulah aku …..

One Response to Gotong Royong ala Indonesia

  1. Sriayu says:

    Bangun rumah rame-rame saling bantu membantu dl d kampung saya d sebut SAMBATAN Pak. Tp budaya itu skrg nyaris punah.
    Sekedar info jl tempat tinggal saya namanya Gotong Royong lo. he he he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: