Idealisme di Persimpangan

Pagi ini, Kamis 05 Nopember 2009, seperti biasanya dengan sepeda motor saya berburu waktu menuju tempat mengajar di SMA Negeri Unggulan M.H. Thamrin Jakarta Timur. Baca Lengkap?
Seperti biasanya juga di jalan raya kota Jakarta berburu dengan kemacetan, ketergesaan dan kekacauan.
Bukan sekali memang, kejadian pengendara saling serobot seenaknya, baik motor maupun mobil. Tapi kali ini membuat hati ragu untuk “istiqomah” dalam kebaikan dan keteraturan.
Betapa tidak? di suatu perempatan jalan raya, seperti biasanya sebagian besar sepeda motor berburu sedekat mungkin dengan lampu merah di perempatan. Kontan saja ini membuat sepeda motor “menguasai” penuh perempatan dan tampak terlihat menggelembung di perempatan. Tak perduli ada polisi atau tidak, itulah yang terjadi hampir setiap hari.
Pada saat lampu di bagian saya berhenti di perempatan masih menyala merah, karena bagian lain mulai agak berkurang kendaraan yang lewat, praktis sebagian sepeda motor curi-curi kesempatanm untuk menerobos. Satu dua motor sudah kabur menerjang lampu merah. Begitu ada kesempatan lagi, melajulah beberapa motor lagi. Begitulah seterusnya.
Dan, persis pada saat ruas sebelah kiri mulai bergerak sesuai bagiannya ke arah kanan seberang kami, maka suasana di depan tentu kosong kendaraan dari berbagai arah. Tak pelak, situasi itu dimanfaatkan sebagian besar kendaraan dari arah kami bergerak maju, hampir semuanya bergerak.
Tinggal saya dalam kegalauan pada saat klakson kendaraan di belakang berbunyi kencang meminta saya ikut bergerak juga walaupun sebenarnya belum waktu atau bagiannya.
Sumpah serapah terdengar pada saat saya tetap diam tidak bergerak. “Goblok, maju dong!!!” begitu teriaknya. Bahkan, karena saya tidak juga beranjak, pengendara lain lebih kasar lagi membentak, “Hei, congek apa ya? maju dong…!!!”.
Bersyukur, di sebelah kanan saya juga masih tetap diam tidak ikutan bergerak maju memenuhi perempatan yang sudah sangat semrawut. Terdengar dari nada suaranya, sepertinya beliau sudah cukup berusia, mungkin sekitar 50-an tahun.
Ujarnya, “Yah beginilah Mas bangsa kita. Hampir semuanya tak peduli dengan keselamatan apalagi aturan lalu lintas. Semua hanya memikirkan diri sendiri, yang penting dirinya dapet, cepet. Tidak peduli orang lain dirugikan atau membahayakan keselamatan”.
Katanya lagi, “Kadang mereka suka ada yang bilang, ngapain taat ama peraturan segala. Emangnya kalo telat kerja, trus dipecat, polisi atau orang lain mau nolongin kita? Udah, kalo ada kesempatan cabut aja. Wong para pejabat di atas aja nggak ada yang bisa dicontoh. Kita yang taat malahan rugi tau?”
Masya Allah, haruskah saya juga berpendapat seperti itu? Semakin kita berusaha mengikuti aturan, justru semakin dipinggirkan, semakin ditinggalkan dan semakin dirugikan orang lain. Rugi sendiri jadinya.
Wah, idealismeku tertantang di persimpangan. Akankah bertahan dan ditinggalkan? ataukah ikut arus dan mulus …..?
Bagaimana dengan Anda ???

3 Responses to Idealisme di Persimpangan

  1. Susy Lestari says:

    The description is spot-on!

    Tidak tau kenapa makin semrawut, orang yg disiplin malah dimaki-maki. Kadang begitulah, dikasih tau yg benar dan salah, tanggapannya dibilang sok tau lah, sok menggurui, dsb.
    Giliran kecelakaan, main salah-salahan & siapa yg ngototnya paling kenceng dia yg menang.

    Oh well, yang penting mulai dari diri sendiri dulu, mudah2an masih banyak orang yang makin sadar & peduli dengan sekitarnya.

    Regards,

  2. Susy Lestari says:

    Hehe… numpang comment ah, Mr. Z.
    Abis bacanya gregetan;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: