Merdeka apakah Berarti Bebas?

17 Agustus 2009, gemerlap semangat kemerdekaan Republik Indonesia kembali terkibarkan. Mengenang dan membangkitkan nilai juang mengisi kemerdekaan selama 64 tahun.

Baca Lengkap ???

Di sebagian tempat, peringatan HUT Kemerdekaan RI ini masih cukup “heboh”. Seperti yang terjadi di MENADO, Sulawesi Utara. Event yang fantastik dengan adanya pencatat GUINESS BOOK of THE RECORD yang mencatatkan Penyelaman Terbanyak di dunia. Dan keesokan harinya, Upacara Peringatan Kemerdekaan yang diadakan di dalam laut.
Tapi entah mengapa, gemerlap kemerdekaan tahun ini, di sebagian tempatlain terasa tidak “seheboh” sebelumnya.
Banyak tafsiran atas alasan kejdaian ini, misalnya:
1. Bangsa ini tetap merasa bangga dan “heboh”, tetapi tidak terlalu menampakkannya;
2. Waktu yang agak mepet dengan datangnya bulan Ramadhan, sehingga terpecahnya konsentrasi menghadapinya;
3. Bangsa ini semakin berat menjalani kehidupan yang semakin sulit.
4. Ataukah?… masyarakat kini mengalami sikap reinterpretasi mengenai makna kemerdekaan selama ini?
5. Atau juga?… karena masyarakat tidak cukup punya alasan untuk heboh, karena tidak banyak “kemakmuran” yang dinikmati dari negeri yang sebenarnya sangat makmur ini.
Wallahu a’lam, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

Di sisi lain, tafsir arti kemerdekaan terlihat saling simpang-siur.
Sebagian anak bangsa ini menfsirkan arti kemerdekaan semata-mata sebagai kebebasan, bahkan
bebas tanpa batas. Bebas untuk melakukan apa saja yang kita mau.
Padahal, merdeka atau bebas dalam arti yang sesungguhnya, yakni tanpa adanya arahan, paksaan, tuntutan atau mengikuti kehendak pihak lain, memang tidak akan pernah kita dapatkan.
Sebab, pada saat kita menyatakan bebas semau sendiri, sesungguhnya kita sedang “terdominasi” atau mentaati kemauan diri sendiri. Jadi, apakah berarti kita bebas dalam arti sesungguhnya?
Tafsir “merdeka” yang lebih dekat adalah merdeka dan bebas dari segala arahan, paksaan, tuntutan atau mengikuti kehendak sesama makhluk. Karena, berarti kita menjadi tidak independen dan tidak bermartabat.
Oleh karena itu, yang paling wajar dan bermartabat adalah mengikuti arahan, paksaan, tuntutan dari Yang Maha Kuasa atas kita semua, para makhluknya.
Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: