TUMPUL PERASAAN

Selasa ini, 12 Mei 2009, setidaknya saya mendapat beberapa pelajaran dan renungan. Diantaranya, pelajaran tentang tumpulnya perasaan bangsa kita.  BACA LENGKAP
Hampir setiap kali melihat di perjalanan, kendaraan angkutan penumpang, baik bis, angkot, taksi, bajaj, bahkan kendaraan pribadi sekalipun, harus selalu “diusir” dengan cara “klaksonisasi”, membunyikan klakson secara rame-rame jika lalu lintas macet karena ulah pengendara yang seenaknya berhenti di sembarang tempat, apalagi di perempatan jalan atau tempat yang sangat padat.
Berhenti seenaknya, menaikkan atau menurunkan penumpang seenaknya, bukan di tempat yang diizinkan, berbelok atau berbalik arah semaunya, nyelonong di lampu merah, padahal lampu merah sudah menyala, dan seterusnya, dan seterusnya.
Itu hanya sekelumit keamburadulan sikap yang tumpul perasaan. Itupun baru sikap di jalanan, apalagi di tempat atau keadaan yang lain.
Entah apa yang sudah dan sedang terjadi pada bangsa ini?
Pada saat kendaraan di depan kita berbelok seenaknya tanpa memberikan lampu sen, atau di tempat yang sebenarnya dilarang, anehnya, pada saat kita marah menegurnya, ia malah berbalik lebih marah lagi, bahkan berkata-kata lebih kasar.
Pada saat kendaraan di belakang kita menabrak kendaraan kita, mungkin memang tidak sengaja, tetapi pada saat kita tegur, justru ia yang melotot menunjukkan kemarahannya.
Di saat lalu lintas sedang sibuk, sebagian tidak perduli menyerobot, memotong jalan yang bukan haknya, ia tidak perduli apakah orang lain menjadi terhalang karenanya, bahkan menjadi celaka. Dan, ia begitu santainya “ngeloyor” pergi meninggalkan tempat begitu saja meskipun karena ulahnya menyebabkan kendaraan lain jatuh atau lecet.
Masya Allah, apa yang sudah dan sedang terjadi pada bangsa ini? Bangsa yang TUMPUL PERASAAN?
Begitu juga di antrian pembayaran misalnya. Sebagian tak tahu malu menyerobot antrian seenaknya tanpa mempedulikan orang lain yang telah dizhaliminya.
Melihat musibah yang terjadi di depan matanya, ia begitu saja pergi meninggalkannya tanpa sedikitpun tergerak untuk menolongnya. Paling bagus ia hanya melihat sebentar, lalu ia menelepon polisi atau memberitahukan ke orang-orang sekitar tentang musibah yang baru saja dilihatnya.
Ya Allah, apa yang sudah dan sedang terjadi pada bangsa ini? Bangsa yang TUMPUL PERASAAN ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: