KLAKSONISASI

Senin pagi ini, 11 Mei 2009, seperti biasanya saya berangkat ke tempat mengajar menembus gelapnya malam ba’da shubuh, apalagi hari ini saya harus lebih pagi dari biasanya, karena siswa kelas XII SMK 45 murid-muridku, akan menjalani rangkaian ujian akhir, yakni Ujian Sekolah untuk enam mata pelajaran: Agama, PKn/Sejarah, Penjaskes (olahraga), Ekonomi, Kewirausahaan dan KKPI (Komputer), sementara saya menjadi panitia Ujian Nasional tahun ini.           BACA LENGKAP?
Sepanjang perjalanan, suasana pagi yang sudah mulai menggeliat, bahkan sudah ramai, kendaraan pun berlalu lalang begitu sibuknya, padahal masih cukup gelap.
Agak lancar perjalanan sebelum sampai di Ciputat. Tetapi, setelah sampai di Ciputat, lalu lintas kendaraan sudah mulai tersendat seperti biasanya, di samping karena adanya “pasar tumpah” yang memakan sebagian jalan raya, lebih dari itu, mobil-mobil angkutan penumpang, baik bis kota maupun angkot banyak yang sengaja memperlambat laju kendaraannya, bahkan seenaknya berhenti di tengah jalan tanpa memperdulikan kendaraan di belakangnya.
Inilah pemandangan rutin setiap pagi yang biasa saya lihat. Saya harus terus bersabar untuk menyaksikan kesewenang-wenangan itu setiap harinya, baik sewaktu berngkat ataupun pulang kerja.
Pagi ini, persis di tanjakan jembatan layang Ciputat, angkot “nakal” kembali berulah. Ia berhenti begitu saja menurunkan penumpang. Yang lebih menyebalkannya, ia justru berhenti dengan posisi melintang, separuh badan anglotnya masih di tengah jalan, separuhnya lagi sudah belok ke kiri seperti hendak minggir.
Kontan saja, kami pengendara di belakangnya mengumpat-umpat melihat ulahnya. Dan, seperti biasa juga, senjata yang jitu pun dikeluarkan, yaitu “KLAKSONISASI”.
Maksudnya, membunyikan klakson untuk menghalau kendaraan di depan yang sengaja berhenti seenaknya. Hampir semua kendaraan membunyikan klakson secara bersamaan saking kesalnya. Biasanya, jika itu sudah dilakukan, barulah angkot atau kendaraan nakal itu beranjak pergi atau meminggirkan kendaraannya sambil melengos menghindari tatapan pengendara di belakangnya yang sudah kesal. Herannya, dengan wajah yang “innousence” tanpa merasa bersalah.
Masya Allah, beginilah keadaan bangsa kita ini. Haruskah selalu dengan klaksonisasi untuk menghalau kemacetan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: