BEKAM (HIZAMAH)

Kemarin, Ahad 19 April 2009, sembari ada kegiatan menimba ilmu ke Bekasi, alhamdulillah saya berkesempatan untuk melakukan salah satu terapi dalam THIBBUN NABAWI, yakni BEKAM (Hizamah) atau cantuk.
Bekam sebuah terapi yang pernah dan biasa dilakukan oleh dan pada zaman Rasulullah, Nabi Muhammad SAW. Bekam dilakukan sebagai terapi untuk mengeluarkan toksin yang ada di dalam tubuh, yakni dengan mengeluarkan toksin itu dari darah yang berada di permukaan kulit. Karena itu adalah darah toksid, maka darah yang dikeluarkan pun berwarna merah kehitaman. Banyaknya darah yang keluar tergantung penyakit yang ada, begitu juga warna kehitaman juga tergantung pada penyakitnya.
Bekam ini, secara syari’at Islam nyata diyakini sebagai sunnah yang dikerjakan Nabi, seperti tertuang dalam beberapa hadits Shahih. IBNUL QAYYIM al-JAUZI bahkan menulis khusus dalam kitabnya, THIBBUN NABAWY.
Secara medis, para pakar kesehatan mengakui tentang perlunya mengeluarkan toksin dari dalam tubuh, yang dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, tentu dengan cara yang benar (ilmiah). Salah satu cara diantaranya adalah dengan Bekam. Karena, jika dilakukan dengan benar–sesuai ilmu/ilmiah–maka disamping dapat mengeluarkan toksin juga tidak memiliki efek samping yang merugikan atau membahayakan.
Bekam yang saya jalani kemarin di KLINIK BAITUSY-SYIFA, komplek Ruko CENTRA NIAGA Kali Malang (seberang ISLAMIC CENTER) Bekasi, dimulai dengan BEKAM LUNCUR yang diawali dengan baluran MINYAK ZAITUN dan diurut ringan, untuk membuka pori-pori, hampir seperti fungsi “kerokan”.
Sesudah Bekam Luncur, sesudah punggung dibaluri minyak zaitun kembali, langsung BEKAM KERING, yakni bekam dengan mengisap titik-titik terapi pada bagian-bagian tubuh menggunakan tabung vakum. Sebagian titik tersedot seperti embun/uap jika terdapat angin atau air.
Setelah tabung vakum penyedot dibiarkan kurang lebih lima menit, kemudian dilanjutkan dengan BEKAM BASAH. Ini bagian yang agak “mengagetkan” bagi yang pertama kali melakukannya. Betapa tidak, bekamnya hampir sama dengan bekam kering, tetapi didahului titik-titik terapi pada bagian tubuh di”lubangi” dengan jarum seperti jarum untuk periksa darah, jarum sekali pakai tentunya, agar steril. Pada satu titik sekitar 10 “tusukan”.
Setelah “ditusuk” jarum barulah bagian tubuh tersebut disedot dengan tabung vakum dan dibiarkan selama kurnag lebih lima menit.
Selesai sudah proses bekam, titik-titik terapi yang mengeluarkan darah berwarna kehitaman itu dibersihkan dengan sempurna menggunakan minyak zaitun. Saya sudah dipersilahkan meninggalkan ruang terapi setelah kurang lebih 20 menit dibekam.
Alhamdulillah, badan memang terasa lebih segar. Pasien, termasuk saya, disarankan untuk membeli ramuan herbal–yang alami dan ilmiah– yang dianjurkan sesuai dengan gangguan penyakit yang diderita, meskipun tidak wajib.

Terima kasih Pak YAYAT RUHIYAT dan tim yang telah berupaya mempopulerkan pengamalan Thibbun Nabawi, sebuah alterntif syari’ah bagi pengobatan ummat Islam. Semoga menjadi amal shalih, amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: